Kerajaan Sriwijaya
Kedatuan bahari legendaris yang menguasai Selat Malaka, menjadi episentrum perdagangan global dan pusat pendidikan agama Buddha di Asia Tenggara.
Saksikan kisah kemegahan imperium maritim dan agraris purba, tempat bersatunya keberagaman, ilmu pengetahuan tinggi, dan kekuatan armada penjelajah samudera.
Tiga pilar imperium raksasa yang menancapkan pengaruh besar di Asia Tenggara.
Kedatuan bahari legendaris yang menguasai Selat Malaka, menjadi episentrum perdagangan global dan pusat pendidikan agama Buddha di Asia Tenggara.
Kemaharajaan terbesar yang berhasil menyatukan gugusan kepulauan Nusantara di bawah sumpah suci Amukti Palapa dengan kejayaan angkatan lautnya.
Kerajaan agraris subur pembangun monumen suci dunia seperti Candi Borobudur dan Prambanan, lambang toleransi beragama yang harmonis dan agung.
Telusuri tonggak-tonggak sejarah paling signifikan yang membentuk Nusantara.
Perjalanan suci (Siddhayatra) Dapunta Hyang Sri Jayanasa membawa 20.000 tentara mendirikan wanua (pusat kota) Sriwijaya yang makmur.
Raja Sanjaya mendirikan lingga di Bukit Sthirangga, menandai berdirinya Kerajaan Mataram Kuno dengan peradaban agraris dan budaya tinggi.
Sriwijaya di bawah Balaputradewa berkembang menjadi pusat studi agama Buddha terbesar di Asia Tenggara, bersahabat dengan Nalanda (India).
Di bawah wangsa Syailendra, mahakarya arsitektur Buddha terbesar di dunia selesai didirikan sebagai visualisasi kosmik jalan menuju pencerahan.
Raden Wijaya mengalahkan tentara Kublai Khan dengan siasat jenius dan dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardhana.
Patih Gajah Mada mengikrarkan sumpah sakral untuk tidak menikmati kesenangan duniawi (palapa) sebelum berhasil menyatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit.
Masa puncak kestabilan politik, kesejahteraan rakyat, dan penulisan kitab legendaris Kakawin Nagarakretagama yang mendokumentasikan wilayah Nusantara.
Sebuah sumpah yang diucapkan oleh Patih Gajah Mada di depan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi yang mengubah jalannya sejarah persatuan kepulauan Nusantara.
"Sira Gajah Mada apatih amangkubhumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: 'Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa'."